Karhutla dan ISPU: Apa Artinya bagi Anak dan Keluarga

Petugas kesehatan bermasker membagikan masker medis kepada pengendara motor di jalan berkabut asap
Petugas kesehatan membagikan masker kepada pengendara di jalan yang diselimuti kabut asap karhutla. Foto: Kemenkes RI/kemkes.go.id (rilis resmi)

Kastakilat.id – Kapan anak aman keluar rumah saat langit tertutup asap? Pertanyaan itu membuat isu karhutla dan ISPU ramai, sebab Kementerian Kesehatan mencatat 314.124 kasus ISPA di wilayah terdampak hingga Selasa (20/10/2026), termasuk 70.890 balita.

Data tersebut juga muncul di CNA Indonesia dan IDN Times pada 21 Oktober 2026. Selain itu, asap melanda tujuh provinsi dan 65 kabupaten/kota.

Bacaan Lainnya

Menurut data Kemenkes per 17 Oktober yang Metro TV laporkan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah berstatus tanggap darurat. Sementara itu, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan berstatus siaga darurat.

Angka ISPA Karhutla per 20 Oktober

Kemenkes menghitung kasus secara kumulatif sejak 20 Agustus hingga 20 Oktober 2026. Menurut Kepala Biro Komunikasi Kemenkes Aji Muhawarman kepada CNA Indonesia, balita menyumbang 22,6 persen kasus, sedangkan warga di atas lima tahun menyumbang 243.234 kasus.

Dari data yang sama, Sumatera Selatan mencatat kasus terbanyak, yaitu 82.177. Kalimantan Selatan menyusul dengan 78.894 kasus, lalu Kalimantan Barat dengan 55.686 kasus.

Riau mencatat 36.433, Kalimantan Timur 27.688, dan Kalimantan Tengah 26.740 kasus.

Grafik batang kasus ISPA di wilayah karhutla per provinsi, Sumatera Selatan tertinggi 82.177 kasus
Kasus ISPA kumulatif per provinsi, 20 Agustus–20 Oktober 2026. Grafik: Kastakilat.id, data Kemenkes via CNA Indonesia; Jambi tidak dirinci

Jangan tertukar dengan angka 314 dalam rilis Kemenkes 21 Agustus 2026; angka itu adalah jumlah tenaga kesehatan yang pemerintah kerahkan.

Sebaliknya, 314 ribu adalah jumlah kasus ISPA per 20 Oktober.

Lima Langkah Melindungi Anak dan Keluarga

Daftar ini merangkum anjuran Kemenkes dari rilis resmi serta keterangan Aji Muhawarman kepada CNA Indonesia pada 21 Oktober 2026.

  1. Cek ISPU wilayahmu setiap pagi sebelum anak berangkat atau bermain di luar.
  2. Pakai masker N95 atau KN95 yang menempel rapat; bila tidak ada, masker medis atau kain berlapis tetap lebih baik.
  3. Tetap di rumah dan belajar daring bila memungkinkan, terutama saat udara sangat tidak sehat atau berbahaya.
  4. Cukupi minum air putih, makanan bergizi, dan waktu istirahat anak.
  5. Segera bawa anak ke puskesmas bila ia sesak napas, batuk terus, nyeri dada, atau matanya sangat perih.
Baca Juga:  Musim Hujan 2026 Mulai Kapan? Jadwal BMKG

Soal biaya, Aji Muhawarman mengatakan kepada IDN Times bahwa puskesmas dan rumah sakit daerah melayani penyakit akibat karhutla secara gratis. Di samping itu, Kalimantan Tengah sudah memiliki 295 rumah oksigen per 20 Oktober 2026.

Petugas kesehatan, sebagian bermasker, berdiri di tenda Posko Kesehatan siaga darurat karhutla Kabupaten Pulang Pisau
Petugas kesehatan bermasker berjaga di tenda posko siaga darurat karhutla Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Foto: Kemenkes RI/kemkes.go.id (rilis resmi)

Membaca Angka ISPU di Ponsel

ISPU atau Indeks Standar Pencemar Udara mengacu pada Peraturan Menteri LHK Nomor 14 Tahun 2020, yang membagi kualitas udara ke dalam lima kategori seperti tabel berikut.

KategoriAngka ISPUArtinya bagi keluarga
Baik0–50Aktivitas luar ruang normal
Sedang51–100Masih wajar, pantau anak yang punya asma
Tidak Sehat101–200Anak, lansia, dan ibu hamil kurangi waktu di luar
Sangat Tidak Sehat201–300Batasi keluar rumah, pakai masker rapat
Berbahaya301 ke atasHindari aktivitas luar, tetap di dalam rumah
Rentang ISPU sesuai Permen LHK 14/2020; anjuran merangkum KLH/BPLH dan Kemenkes, September–Oktober 2026.

Pada 22 September 2026, KLH/BPLH menyatakan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan masuk kategori berbahaya. Untuk angka terbaru, buka ispu.kemenlh.go.id yang memperbarui datanya tiap 30 menit, atau aplikasi SatuSehat.

Kabut asap kekuningan menyelimuti Tugu Talawang di Palangka Raya, kendaraan menyalakan lampu di jalan
Kabut asap karhutla menyelimuti Tugu Talawang, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, September 2026. Foto: ParadoxP P/Wikimedia Commons (CC BY 4.0)

Artinya Bagi Balita Paling Rentan

Masalah utamanya adalah partikel PM2,5, yakni debu halus berukuran kurang dari 2,5 mikrometer. Dalam imbauan 21 Agustus 2026, Menkes Budi Gunadi Sadikin menjelaskan partikel ini bisa masuk sampai bagian terdalam paru-paru.

Oleh karena itu, Kemenkes menyebut anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita asma atau penyakit paru sebagai kelompok rentan. Keluhannya mulai dari mata perih dan tenggorokan gatal hingga sesak napas.

Menurut kami, angka 70.890 balita cukup menjadi alasan untuk tidak menunggu langit “terlihat parah” sebelum bertindak.

Angka yang Perlu Dipantau Minggu Ini

Sejauh ini, kasus harian belum menunjukkan tren turun yang stabil. Menurut Metro TV, Kemenkes mencatat 3.827 kasus baru pada 16 Oktober dan 2.609 kasus pada 17 Oktober.

Baca Juga:  Persiapan Musim Hujan: Cek Rumah dan Motor

Namun, data Kemenkes yang IDN Times kutip menunjukkan angkanya kembali naik menjadi 3.269 kasus pada 20 Oktober.

Pada akhirnya, asap biasanya baru reda saat hujan turun rutin. Karena itu, pantau juga jadwal awal musim hujan 2026 dari BMKG untuk wilayahmu.

Sampai hujan datang, angka ISPU pagi hari menjadi patokan paling praktis sebelum anak keluar rumah.

Diana Runiana
Ditulis oleh

Diana Runiana

Perempuan asli Gamping, Sleman. Suka menulis, membaca, dan menggambar.

Pos terkait