Cara Menghilangkan Bau Apek di Lemari: Cek Jamur Dulu

Deretan kemeja dan kaus tergantung rapat di dalam lemari pakaian, foto hitam putih
Pakaian yang digantung terlalu rapat di lemari tertutup membuat udara sulit bergerak dan bau apek mudah muncul. Foto: Faith Lee/Unsplash (Unsplash License)

Kastakilat.id – Kamu tidak perlu menumpuk kapur barus untuk mengusir bau lemari. Inti cara menghilangkan bau apek di lemari adalah empat langkah berurutan: keluarkan semua isi, cari bercak jamur, gosok permukaan dengan sabun dan air, lalu keringkan total. Penyerap bau baru membantu setelah sumber lembapnya hilang.

Panduan ini khusus untuk lemari yang sudah telanjur bau. Sementara itu, langkah pencegahan selama musim hujan sudah kami bahas di panduan mencegah baju dan lemari berjamur, jadi tidak kami ulang di sini.

Bacaan Lainnya

Bau Apek Berasal dari Jamur dan Lembap

Bercak jamur hitam menyebar memanjang pada dinding bercat putih yang lembap
Bercak hitam atau kehijauan yang menyebar seperti ini menandakan jamur sudah tumbuh, bukan sekadar lembap biasa. Foto: Hydra 4x/Unsplash (Unsplash License)

Menurut CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS), jamur tampak sebagai bintik beraneka warna dan sering berbau apek. Jadi, bau itu biasanya bukan bau kayu atau bau kain, melainkan tanda ada kapang yang sedang tumbuh.

Lembar fakta UF/IFAS Extension (Universitas Florida) menjelaskan bahwa spora jamur ada di mana-mana. Spora itu memakan serat alami, kayu, kertas, bahkan sisa minyak tubuh di baju, lalu menghasilkan bau tak sedap.

Lemari termasuk sasaran favoritnya.

Lembar fakta universitas yang sama menempatkan lemari di antara tiga titik jamur terparah di rumah, bersama kamar mandi dan kamar tidur. Penyebabnya sederhana: lembap mudah masuk ke ruang tertutup, tetapi sulit keluar lagi.

Iklim kita ikut memperparah, karena UF/IFAS mencatat kapang tumbuh paling cepat pada suhu sekitar 25–30°C dan kelembapan relatif 70–93 persen. Kondisi itu mirip kamar tidur di banyak kota Indonesia saat musim hujan.

Cek Dulu: Hanya Lembap atau Sudah Berjamur

Sebelum membeli apa pun, cari tahu dulu sumber baunya. Langkah ini sering terlewat, padahal tiap penyebab butuh tindakan berbeda.

Tanda yang terlihat atau terciumKemungkinan penyebabTindakan pertama
Bercak berbulu hitam, hijau, atau cokelat di dinding lemari atau bajuJamur aktifGosok dengan sabun dan air, keringkan; ganti bahan berpori yang rusak parah
Bau muncul setelah baju hasil jemuran mendung masuk lemariBaju belum benar-benar keringKeluarkan, cuci ulang, jemur sampai kering
Bau tajam menusuk seperti obatUap kapur barusAmbil kapur barusnya, angin-anginkan baju dan lemari
Bau samar tanpa bercak, lemari menempel tembok luar atau kamar mandiLembap ruang dan sirkulasi burukKurangi isi, beri jarak gantungan, buka pintu berkala

Bagan berikut merangkum urutan pemeriksaannya. Mulailah dari pertanyaan paling atas, karena kita harus membereskan jamur aktif sebelum langkah lain.

Baca Juga:  Cara Mencuci Sepatu Putih Sesuai Bahan agar Tidak Menguning
Bagan alur diagnosis bau apek di lemari: cek jamur, baju belum kering, kapur barus, lalu lembap ruang
Bagan alur memeriksa sumber bau apek di lemari secara berurutan. Kastakilat.id mengolahnya dari panduan EPA dan UF/IFAS Extension.

Ukur juga luas jamurnya.

Menurut panduan pembersihan jamur EPA (Badan Perlindungan Lingkungan AS), area di bawah sekitar 10 kaki persegi, kira-kira 0,9 meter persegi, umumnya bisa kita tangani sendiri. Lebih luas dari itu, sebaiknya minta bantuan tenaga berpengalaman.

Kosongkan, Bersihkan, dan Keringkan Total

Beberapa pakaian dan kain dijemur di tali jemuran di halaman berumput saat cuaca cerah
Jemur pakaian dan kain dari lemari di bawah sinar matahari sampai benar-benar kering sebelum masuk lemari lagi. Foto: Charlie Charoenwattana/Unsplash (Unsplash License)

Pilih hari yang cerah, karena lemari dan isinya perlu kering bersamaan. Setelah itu, kerjakan langkah berikut secara berurutan:

  1. Keluarkan semua isi lemari. Pisahkan baju yang berbau atau berbercak dari baju yang masih wangi.
  2. Bersihkan jamur pada pakaian dengan sikat di luar ruangan. UF/IFAS menyarankan cara ini agar spora tidak menyebar ke kamar.
  3. Buka jendela dan pakai sarung tangan. EPA juga menyarankan masker N95 dan kacamata pelindung saat membersihkan jamur.
  4. Gunakan sabun atau deterjen dan air untuk menggosok bagian dalam lemari. Fokuskan pada sudut, panel belakang, dan lantai lemari.
  5. Keringkan dengan kain kering setelah mengelap permukaan memakai kain yang hanya lembap. Hindari menyiram lemari kayu dengan banyak air.
  6. Biarkan pintu lemari terbuka beberapa jam sampai tidak ada bagian yang masih terasa lembap atau basah di tangan.

EPA menegaskan bahwa permukaan basah sebaiknya kering dalam 24–48 jam agar jamur umumnya tidak tumbuh. Selain itu, lembaga itu menyebut kita mungkin harus membuang bahan berpori yang berjamur parah, karena jamur bisa bersarang di dalam pori-porinya.

Untuk lemari kayu, terutama papan partikel, perhatikan panel yang menggembung atau lapuk. Panel seperti itu sering tetap berbau meski sudah kamu gosok, sehingga mengganti satu papan biasanya lebih tuntas daripada menyemprot pewangi berkali-kali.

Bagaimana dengan pemutih? EPA tidak menyarankan biosida seperti pemutih klorin sebagai cara rutin.

Baca Juga:  Cara Menghilangkan Noda Kuning di Baju Putih

Lagi pula, Dinas Kesehatan Negara Bagian Washington memperingatkan bahwa pemutih yang bertemu cuka atau pembersih berasam melepaskan gas klorin, sedangkan pemutih yang bertemu amonia menghasilkan gas kloramin.

Prinsip yang sama berlaku di kamar mandi berjamur: satu jenis pembersih saja per sesi.

Cuci Ulang Baju yang Telanjur Apek

Mesin cuci bukaan depan berwarna putih berisi pakaian di ruang cuci dengan rak dan keranjang
Cuci ulang baju yang telanjur apek, lalu segera jemur agar tidak lama tertinggal di mesin. Foto: PlanetCare/Unsplash (Unsplash License)

Mengangin-anginkan baju yang ikut bau saja tidak cukup. Sebaliknya, cuci ulang dengan langkah dari lembar panduan UF/IFAS Extension berikut:

  1. Keluarkan baju berbercak ke luar rumah, sikat jamurnya, lalu jemur sebentar sebelum masuk mesin cuci.
  2. Cek label perawatan. Jangan pakai pemutih klorin untuk sutra, wol, atau spandeks.
  3. Rendam kain putih yang tahan klorin menurut takaran UF/IFAS, yaitu 2 sendok makan pemutih klorin per 1 quart (sekitar 0,95 liter) air selama 5–15 menit, lalu bilas. Cara lain, usap nodanya dengan larutan yang sama.
  4. Pakai pemutih non-klorin untuk kain berwarna atau yang tak tahan klorin, rendam minimal 30 menit, lalu bilas.
  5. Cuci seperti biasa, lalu segera jemur di bawah matahari. Menurut UF/IFAS, cahaya lampu biasa tidak membunuh jamur, tetapi sinar UV matahari bisa.

Jemur seprai atau selimut yang apek selama beberapa jam. Bila bercak masih ada, UF/IFAS menyarankan mengusapnya dengan kain yang dibasahi campuran alkohol gosok dan air dengan perbandingan 1:1, lalu mengeringkannya sampai tuntas.

Satu kebiasaan kecil menentukan hasilnya: jangan masukkan baju yang hanya “hampir kering”. Baju setengah lembap di tumpukan bawah akan mengembalikan bau dalam beberapa hari.

Pilih Penyerap Bau dengan Hati-Hati

Butiran silika gel berwarna biru berserakan di atas permukaan putih
Silika gel menyerap uap air di ruang tertutup; simpan dalam kantong tertutup dan jauhkan dari jangkauan anak. Foto: Mauro Cateb/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Banyak orang menyarankan kapur barus, padahal pilihan ini paling berisiko.

NPIC (Pusat Informasi Pestisida Nasional AS) menggolongkannya sebagai pestisida berbahan naftalena atau paradiklorobenzena. Labelnya mewajibkan pemakaian di wadah tertutup rapat, sehingga menaburnya di lemari biasa termasuk penyalahgunaan.

Baca Juga:  Alat Rumah Tangga Paling Boros Listrik, Ini Daftarnya

Pertama, bila bau kapur barus tercium, berarti kita sedang menghirup pestisidanya. Kedua, UF/IFAS menyebut satu butir saja bisa berbahaya serius bila tertelan anak, dan anak kecil maupun hewan peliharaan bisa mengiranya permen.

Lalu bagaimana dengan baking soda, arang, atau kopi? Kami belum menemukan uji dari lembaga resmi tentang daya serapnya di lemari, jadi efektivitasnya bervariasi. Kami menganggapnya pelengkap yang aman, bukan solusi.

Silika gel dan penyerap lembap berbahan kalsium klorida memang menarik uap air.

Namun, UF/IFAS mengingatkan bahwa desikan seperti kalsium klorida kurang berguna bila seluruh rumah lembap, karena kapasitas serapnya kecil dibanding volume udaranya. Letakkan dalam wadah tertutup yang jauh dari jangkauan anak.

Hindari juga produk anti-jamur berbahan paraformaldehida untuk lemari di kamar. Menurut UF/IFAS, bahan ini beracun bagi manusia dan tidak cocok untuk ruang yang kita huni.

Atur Lemari Supaya Udara Tetap Bergerak

Setelah bau hilang, tugas berikutnya adalah menjaga udara di dalam lemari tetap kering. Lembar fakta UF/IFAS tentang titik rawan jamur menyarankan kebiasaan berikut:

  • Beri jarak antargantungan agar udara bisa lewat di sela baju.
  • Biarkan lantai lemari kosong, jangan jadikan tempat menumpuk sepatu atau tas yang lembap.
  • Buka pintu lemari secara berkala, terutama bila bau apek mulai tercium lagi.
  • Pilih pintu berkisi atau rak terbuka bila kamu berencana mengganti lemari.
  • Tutup lemari saat ada uap mandi bila letaknya dekat kamar mandi.

Lampu kecil berdaya rendah di dalam lemari juga bisa membantu, dan menurut UF/IFAS efeknya datang dari panas yang menurunkan kelembapan relatif, bukan dari cahayanya. Pasang di posisi rendah dan jauh dari baju.

Sebagai patokan, UF/IFAS menyebut kelembapan relatif di bawah 70 persen menghambat sebagian besar kapang, sedangkan EPA menyarankan kelembapan dalam ruang di bawah 60 persen. Higrometer murah di dekat lemari sudah cukup untuk memberi tanda kapan kamu perlu membuka jendela kamar.

Bau apek yang kembali dalam seminggu biasanya berarti sumber lembapnya belum tertangani, entah tembok yang rembes atau baju yang masih masuk dalam keadaan lembap. Periksa ulang bagan di atas dari langkah pertama, lalu ulangi pengeringan sebelum menambah penyerap bau apa pun.

Diana Runiana
Ditulis oleh

Diana Runiana

Perempuan asli Gamping, Sleman. Suka menulis, membaca, dan menggambar.

Pos terkait