Hujan Meteor Taurid Selatan 10 Oktober, Cara Melihatnya

Jejak meteor Taurid melintas di langit berbintang di atas pohon Joshua Tree, California
Seberkas meteor Taurid melesat di langit berbintang Joshua Tree, California, pada 6 November 2015. Foto: Channone Arif/Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

Kastakilat.id – Hujan meteor Taurid Selatan ramai dicari karena kabar puncaknya terjadi Sabtu malam, 10 Oktober 2026. Malam ini juga bertepatan dengan bulan baru, jadi langit bebas cahaya bulan untuk berburu meteor dengan mata telanjang.

Rasa penasaran juga ikut terpicu oleh tulisan detikEdu pada Jumat (9/10/2026) soal cara menyaksikan hujan meteor Oktober. Namun, kami perlu meluruskan sejak awal bahwa Taurid Selatan termasuk hujan meteor kecil, sehingga harapan Kastakilaters sebaiknya realistis.

Bacaan Lainnya

Cek Jadwal Puncak Malam Ini

Menurut kalender American Meteor Society (AMS), Taurid Selatan aktif sejak 20 September sampai 20 November 2026. Artinya, malam ini bukan satu-satunya kesempatan.

Selain itu, hujan meteor ini punya dua puncak. Puncak awal Oktober menghasilkan sekitar 5 meteor per jam menurut aplikasi astronomi Star Walk, sedangkan puncak utamanya jatuh pada malam 4–5 November.

Jadi, anggap kabar puncak tepat 10 Oktober sebagai perkiraan. Star Walk mencatat puncak awal pada 13 Oktober, sedangkan AMS menyebut komponen tahunannya memuncak 14 Oktober, sehingga Kastakilaters sebaiknya mencoba sepanjang 10–14 Oktober.

Sementara itu, data fase bulan timeanddate untuk Jakarta mencatat bulan baru pada 10 Oktober pukul 22.50 WIB. Dengan begitu, langit tetap gelap sepanjang malam.

Ikuti Cara Menyaksikan Hujan Meteor

Sekelompok orang mengamati langit malam berbintang dan Bima Sakti di padang rumput gelap
Pengunjung festival langit malam mengamati Bima Sakti di padang rumput gelap Taman Nasional Shenandoah. Foto: NPS/M. O’Neill/Wikimedia Commons (domain publik)

detikEdu merangkum saran Royal Museum Greenwich untuk mengamati hujan meteor. Berikut langkah praktis untuk melihatnya:

  1. Pilih lokasi gelap yang jauh dari lampu jalan dan papan reklame, misalnya pantai, sawah, atau atap rumah di pinggir kota.
  2. Pastikan pandangan ke langit lapang, tanpa terhalang gedung atau pepohonan tinggi.
  3. Matikan layar ponsel dan senter, lalu beri mata waktu menyesuaikan diri dengan gelap.
  4. Ambil posisi berbaring atau duduk bersandar, kemudian pandang area langit yang luas, bukan satu titik.
  5. Gunakan mata telanjang saja, karena teleskop dan binokular justru mempersempit bidang pandang.
  6. Tunggu setidaknya satu jam, sebab 5 meteor per jam berarti ada jeda panjang di antara kilatan.
Baca Juga:  Jadwal Sholat Hari Ini 6 Oktober 2026

Menurut kami, langkah ketiga paling sering diabaikan. Satu kali melirik notifikasi saja sudah cukup membuat mata kembali silau.

Tentukan Jam dan Arah Pandang

Star Walk menyarankan pengamatan sekitar pukul 02.00–03.00 waktu setempat, saat titik asal meteor atau radian berada tinggi di langit. Radian Taurid Selatan berada di sekitar rasi Taurus.

Meski begitu, Kastakilaters tidak perlu menatap satu arah. Meteor bisa muncul di bagian langit mana pun, hanya saja jejaknya seolah memancar dari arah radian.

Tantangan terbesarnya justru cuaca. Oktober adalah masa peralihan menuju musim hujan 2026, jadi awan bisa menutup langit di banyak daerah. Kalau langit mendung, coba lagi pada malam berikutnya selama periode aktif.

Kenali Asal Meteor Taurid

Citra inframerah komet Encke dengan jejak debu memanjang diagonal dari Teleskop Spitzer NASA
Citra inframerah Teleskop Spitzer memperlihatkan komet Encke beserta jejak debu yang menjadi sumber meteor Taurid. Foto: NASA/JPL-Caltech/M. Kelley (domain publik)

Taurid Selatan berasal dari debu komet 2P/Encke, menurut Star Walk. Ketika Bumi melintasi jejak debu itu, partikelnya terbakar di atmosfer dan tampak sebagai garis cahaya.

Karena partikel Encke relatif besar, meteor Taurid cenderung terang dan bergerak lambat. AMS juga mencatat Taurid kaya akan fireball, yaitu meteor yang jauh lebih terang daripada bintang paling cemerlang.

Itulah daya tarik utamanya. Jumlahnya memang sedikit, tetapi satu fireball sering lebih berkesan daripada puluhan meteor redup.

Siapkan Malam untuk Orionid

Foto gabungan beberapa meteor Orionid melintas di langit malam dengan rasi Orion di atas pepohonan
Foto gabungan beberapa meteor Orionid yang melintas dekat rasi Orion pada Oktober 2020. Foto: Jim Vajda/Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

Kalau malam ini gagal, masih ada Orionid. detikEdu menyebut hujan meteor ini aktif 2 Oktober–7 November 2026, dengan puncak pada 21–22 Oktober dan hingga 20 meteor per jam.

Orionid berasal dari debu komet Halley. Namun, AMS mengingatkan bahwa cahaya bulan akan mengganggu malam puncaknya, karena bulan sedang menuju purnama 26 Oktober.

Adapun Draconid sudah lewat. Hujan meteor itu memuncak pada 9 Oktober dengan sekitar 5 meteor per jam di Indonesia, menurut catatan detikEdu.

Catat tiga tanggal ini di kalender ponsel: malam ini sampai 14 Oktober, 21–22 Oktober, dan 4–5 November, lalu cek prakiraan awan sore harinya sebelum berangkat.

Baca Juga:  Cara Merawat Batik agar Awet dan Warnanya Tidak Pudar
Diana Runiana
Ditulis oleh

Diana Runiana

Perempuan asli Gamping, Sleman. Suka menulis, membaca, dan menggambar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan