RI Pangkas Ekspor Gas ke Singapura, Dampaknya di Bawah 2%

Pembangkit listrik tenaga gas dengan dua cerobong merah-putih di Pulau Jurong, Singapura
Pembangkit listrik tenaga gas siklus gabungan di Pulau Jurong, Singapura. Foto: PLP2016/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Kastakilat.id – Indonesia resmi memangkas ekspor gas ke Singapura sebanyak 31 BBTUD mulai Sabtu, 24 Oktober 2026. Kabar ini ramai karena datang tiga hari setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bicara soal “mode bertahan”. Namun, Singapura menyebut dampaknya kurang dari 2% kebutuhan gas hariannya dan memperkirakan tarif listrik tidak naik dalam jangka pendek.

Menteri Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura Tan See Leng menyatakan harga tidak akan terlalu terdampak dalam jangka pendek. CNN Indonesia memuatnya pada Selasa, 27 Oktober 2026, dengan mengutip Channel News Asia.

Rincian Ekspor Gas yang Dipangkas

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto merinci asal pemangkasan kepada Antara pada 24 Oktober 2026, menurut laporan detikFinance. Sebanyak 15 BBTUD berasal dari Natuna, sedangkan 16 BBTUD dari Sumatra (Jambi Merang).

Menurut Djoko, hanya Singapura yang terkena karena pipa dari dua wilayah itu memang hanya tersambung ke sana. Ia menyebut gas alihan dari Natuna mengalir ke PLN Batam, sementara gas Sumatra memasok listrik Batam, Bintan, dan Sumatra, menurut Investortrust.

Grafik batang pemangkasan gas Indonesia 31 BBTUD dan 17 BBTUD dibanding kebutuhan harian Singapura 1.000 BBTUD
Pemangkasan gas pipa dari Indonesia dibanding kebutuhan harian Singapura. Grafik: Kastakilat.id, data EMA dan SKK Migas (24 Oktober 2026)

Uniknya, kedua negara memakai angka berbeda. Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) menyebut pengurangan 31 juta kaki kubik standar per hari setara 17 BBTUD dan berlangsung 18 hari, menurut detikFinance yang mengutip CNA. Karena itu, pembaca perlu mencermati perbedaan satuan ini sebelum menilai besar-kecilnya dampak.

Alasan Jakarta: Kebutuhan Dalam Negeri Dulu

Pemicunya pernyataan Bahlil usai rapat kabinet, Rabu, 21 Oktober 2026. “Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga,” ujarnya kepada wartawan, menurut catatan Bisnis.com.

Ia mengaitkannya dengan arahan Presiden Prabowo Subianto soal survival mode. Selain itu, Bahlil mengancam mengevaluasi kontrak gas dengan negara yang ia nilai tidak kooperatif, tanpa merinci kriterianya.

Baca Juga:  Tips Belanja Hemat 10.10 2026 supaya Tidak Boros

Menurut CNN Indonesia, Bahlil juga menyebut faktor pemeliharaan atau shutdown fasilitas produksi gas. Alasan lainnya, pemerintah ingin mengamankan ketahanan energi di tengah potensi krisis energi global.

Kenapa Dampaknya di Bawah 2%

Pertama, porsinya kecil. EMA menghitung kebutuhan gas harian Singapura lebih dari 1.000 BBTUD, sehingga pemangkasan ini di bawah 2%.

Kedua, sumbernya beragam. Pada 2025, gas pipa dari Indonesia dan Malaysia menyumbang 43% impor gas Singapura, sedangkan LNG 57%, menurut data dalam laporan CNN Indonesia. Selain itu, Singapore GasCo siap menambah impor LNG kapan pun perlu.

Ketiga, Singapura sudah terbiasa. EMA menyebut negara itu beberapa bulan terakhir pernah kehilangan 20–100 BBTUD akibat pemeliharaan fasilitas, dan kekurangannya tertutup tanpa gangguan. Padahal, pembangkit Singapura mengandalkan gas alam untuk sekitar 95% listriknya.

Soal tarif, Tan justru meminta warga melihat harga dunia. Menurutnya, harga sebagian besar gas Singapura mengikuti indeks global, bukan volume pasokan dari satu negara.

Yang Terasa di Dalam Negeri

Di Indonesia, pelaku industri menyambut langkah ini. Wakil Ketua Umum Kadin Saleh Husin menilai industri pengguna gas selama ini kesulitan pasokan, menurut Bisnis.com. Asosiasi keramik ASAKI juga menyebutnya momentum untuk menaikkan utilisasi pabrik.

Jembatan Barelang, jembatan kabel di Batam, Kepulauan Riau, di atas selat berair hijau
Jembatan Barelang di Batam, Kepulauan Riau, salah satu wilayah penerima gas alihan. Foto: Cabajar/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Meski begitu, ada catatan penting. Praktisi migas Hadi Ismoyo mengingatkan bahwa gas tidak semudah minyak untuk masuk tangki penyimpanan, sehingga pembeli domestik dan pipanya harus siap lebih dulu. “Percuma ketika ekspor ditutup, tetapi offtaker domestik tidak siap,” ujarnya kepada Bisnis.com.

Bagi rumah tangga, belum ada pengumuman perubahan tarif PLN yang terkait kebijakan ini. Acuan terakhirnya masih tarif listrik PLN Oktober 2026. Pola mendahulukan kebutuhan domestik ini juga sejalan dengan arah hilirisasi nikel pemerintah.

Baca Juga:  Harga iPhone 18 Pro Indonesia Naik Rp3,75 Juta

Tanggal yang Perlu Dipantau

Jika periode 18 hari versi EMA berjalan sejak 24 Oktober, pemangkasan ini berakhir sekitar 10 November 2026 (hitungan Kastakilat.id). Setelah itu, pertanyaan besarnya beralih ke kontrak gas pipa Natuna dan Sumatra yang diperkirakan berakhir pada 2028, menurut detikFinance.

Di Singapura, EMA menyatakan para importir akan menempuh langkah sesuai kontrak. Jadi, sinyal berikutnya patut ditunggu dari dua arah: keputusan perpanjangan kontrak di Jakarta dan klaim kontrak dari importir Singapura.

Diana Runiana
Ditulis oleh

Diana Runiana

Perempuan asli Gamping, Sleman. Suka menulis, membaca, dan menggambar.

Pos terkait