Kurs Dollar Hari Ini Tembus Rp18.000, Ini Pemicunya

Tumpukan uang kertas dolar AS pecahan 100 berserakan
Uang kertas dolar AS pecahan 100, mata uang yang menekan rupiah. Foto: Giorgio Trovato/Unsplash (Unsplash License).

Kastakilat.id – Kenapa kurs dollar mendadak ramai di Google Trends hari ini? Jawabannya, rupiah yang kita pakai sehari-hari menembus Rp18.000 pada Jumat pagi, 16 Oktober 2026. Menurut data Bloomberg di Investor.id, rupiah spot berada di Rp18.038 per dolar AS pukul 09.05 WIB, melemah 100 poin atau 0,56%.

Sehari sebelumnya, rupiah masih berakhir di Rp17.938 per dolar AS. Artinya, level psikologis Rp18.000 jebol hanya dalam satu malam.

Bacaan Lainnya

Pemicunya ganda, yakni inflasi AS yang memanas dan usulan MSCI menurunkan status pasar saham Indonesia.

  • Rupiah spot pagi ini menyentuh Rp18.038 per dolar AS menurut Bloomberg.
  • Pemicu pertama datang dari inflasi AS September yang naik ke 3,7%, menurut BI.
  • Pemicu kedua adalah usulan MSCI menurunkan status pasar saham Indonesia.
  • Sementara itu, BI terus mengintervensi pasar; menurut keterangan resmi BI, cadangan devisa akhir September 2026 sebesar US$146,3 miliar.

Rupiah Tembus Rp18.000 Hari Ini

Liputan6 mencatat rupiah sudah menyentuh Rp18.000 sejak pukul 08.45 WIB berdasarkan data Google. Sementara itu, kurs acuan JISDOR Bank Indonesia pada 15 Oktober berada di Rp17.948, naik dari Rp17.898 sehari sebelumnya.

Meski begitu, posisi pagi ini belum menjadi rekor tahun berjalan. Menurut catatan Liputan6, titik terlemah rupiah sepanjang 2026 terjadi pada 5 Juni di Rp18.088 per dolar AS.

Grafik batang kurs rupiah per dolar AS 14 sampai 16 Oktober 2026 dari JISDOR, pasar spot, dan BCA
Posisi rupiah per dolar AS 14–16 Oktober 2026 dibanding titik terlemah tahun ini. Grafik: Kastakilat.id, data BI, Bloomberg via Investor.id, BCA, Liputan6.

Pemicu Pertama: Dolar Menguat karena Inflasi AS

Bank Indonesia menunjuk data inflasi AS sebagai biang utama. Dalam keterangan resmi yang Bisnis.com muat pada 15 Oktober, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea menyebut inflasi AS September 2026 naik ke 3,7% dari 3,4% pada Agustus.

Baca Juga:  Cara Beli SBN Ritel Online untuk Pemula, Contoh SBR015

Akibatnya, pasar menebak The Fed akan mengetatkan kebijakan lebih agresif. Erwin juga mencatat indeks dolar AS (DXY) sempat mencapai level tertinggi sejak Mei 2025, sedangkan imbal hasil obligasi AS tenor dua tahun naik 12 bps ke 4,90%.

Selain itu, menurut Erwin, konflik Timur Tengah menahan harga minyak di atas US$105 per barel.

Kombinasi itu mendorong dana asing keluar dari pasar negara berkembang. Bagi rupiah, tekanan seperti ini biasanya datang serentak, bukan satu per satu.

Pemicu Kedua: Usulan MSCI Mengguncang Saham

Pada 15 Oktober 2026, MSCI mengumumkan konsultasi usulan reklasifikasi Indeks MSCI Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Dalam rilisnya, MSCI menilai kemajuan reformasi belum cukup, termasuk soal struktur kepemilikan saham yang tertutup dan dugaan perdagangan terkoordinasi.

Namun, keputusan ini belum final. MSCI menjadwalkan keputusan akhir paling lambat akhir Juni 2027, sementara pembekuan perubahan indeks untuk saham Indonesia tetap berlaku.

Fasad Gedung Bursa Efek Indonesia dengan logo IDX dan tulisan Indonesia Stock Exchange di Jakarta
Fasad Gedung Bursa Efek Indonesia di kawasan SCBD, Jakarta. Foto: Ruben Sukatendel/Unsplash (Unsplash License).

Reaksi pasar langsung terasa. Menurut Investor.id, IHSG anjlok 8,01% saat pembukaan pagi ini sehingga bursa menghentikan sementara perdagangan selama 30 menit, lalu kembali bergerak pukul 09.28 WIB. Ketika investor asing melepas saham, mereka umumnya menukar rupiah ke dolar, sehingga tekanan pada kurs ikut bertambah.

Langkah Bank Indonesia Menahan Rupiah

BI menyatakan terus hadir di pasar. Intervensinya mencakup transaksi NDF di pasar luar negeri, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.

Di sisi lain, Erwin menyebut pelemahan rupiah sejak awal kuartal masih terbatas 0,17% dan sejalan dengan mata uang kawasan. Cadangan devisa juga masih tebal, yakni US$146,3 miliar pada akhir September 2026.

Menurut kami, angka ini memberi BI ruang bermanuver, meski bukan jaminan rupiah segera pulih.

Baca Juga:  Pajak Emas Batangan 2026: Beli, Jual, Bebas
Panorama Bundaran Bank Indonesia di Jalan MH Thamrin Jakarta dengan menara gelap kantor pusat Bank Indonesia dan air mancur
Menara kantor pusat Bank Indonesia di kawasan Bundaran BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta. Foto: musnahterinjak/Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0).

Arah suku bunga acuan berikutnya juga patut Kastakilaters pantau, karena keputusan BI ikut memengaruhi bunga KPR dan deposito.

Cara Membaca Kurs Dollar di Bank

Bagi yang butuh dolar untuk kuliah, berobat, atau liburan, kurs dollar di bank lebih relevan daripada JISDOR. Per pembaruan 16 Oktober 2026 pukul 09.29 WIB, halaman kurs BCA memuat angka berikut.

Jenis kurs BCA (USD)BeliJual
e-RateRp18.045Rp18.065
TT CounterRp17.845Rp18.125
Bank NotesRp17.845Rp18.125

Kolom “jual” adalah harga yang kita bayar saat membeli dolar dari bank. Sebagai simulasi, menukar US$1.000 tunai di kurs Bank Notes butuh Rp18.125.000, sedangkan lewat e-Rate cukup Rp18.065.000. Selisih simulasi ini Rp60.000, jadi transaksi digital lebih hemat bila tidak butuh uang fisik.

Sebaliknya, investor tidak perlu panik menukar seluruh tabungan ke dolar. Kurs bergerak cepat dua arah, dan aset lindung nilai seperti emas punya pemicunya sendiri, seperti kami bahas di ulasan penyebab harga emas naik.

Dua pekan ke depan, sorotan bergeser ke rapat The Fed pada 27–28 Oktober dan tanggapan resmi otoritas bursa atas konsultasi MSCI. Menurut FedWatch CME dalam laporan Investor.id, pasar melihat peluang 73% suku bunga AS bertahan.

Diana Runiana
Ditulis oleh

Diana Runiana

Perempuan asli Gamping, Sleman. Suka menulis, membaca, dan menggambar.

Pos terkait