Starlink Mandek di India, Begini Kondisinya di Indonesia

Roket Falcon 9 meluncur membawa satelit Starlink dari Cape Canaveral, Florida, dengan kepulan asap di landasan
Roket Falcon 9 SpaceX meluncur membawa puluhan satelit Starlink dari Cape Canaveral, Florida, April 2021. Foto: Tech. Sgt. James Hodgman/U.S. Space Force via Wikimedia Commons (domain publik)

Kastakilat.id – Warganet ramai mencari Starlink karena Elon Musk berseteru terbuka dengan pemerintah India pada 7–8 Oktober 2026. Musk menuding “oligark” menghambat layanan internet satelit Starlink, sementara Starlink mengaku infrastrukturnya di sana sudah siap.

Lalu, begini kondisinya di Indonesia: Starlink sudah berjualan ritel sejak Mei 2024. Pertanyaannya pun bergeser ke harga, kecepatan, dan siapa yang paling butuh.

Musk Tuding Oligark Hambat Starlink

Garis titik-titik cahaya rangkaian satelit Starlink melintas di langit malam di atas balai kota Tubingen, Jerman
Rangkaian satelit Starlink tampak sebagai deretan titik cahaya di langit malam Tübingen, Jerman, April 2020. Foto: Dktue/Wikimedia Commons (CC0)

Menurut laporan CNBC, Musk menulis di X pada Rabu, 7 Oktober 2026 waktu AS, bahwa sejumlah oligark India menahan Starlink demi melindungi dominasi pasar. Ia tidak menyebut nama.

Namun, sehari kemudian Musk menyindir Mukesh Ambani, bos Reliance yang membawahi Jio. Jio dan Airtel bersama-sama menguasai lebih dari 80% pasar telekomunikasi India.

Kementerian Komunikasi India langsung membantah. Pemerintah menyebut sudah memberi izin kepada tiga penyedia satelit global, dan semuanya wajib lolos syarat keamanan yang sama.

Di sisi lain, Wakil Presiden Operasi Bisnis Starlink, Lauren Dreyer, berbicara di India Mobile Congress pada 7 Oktober. Ia menyebut Starlink sudah membangun 20 lokasi gateway di India dan melayani lebih dari 170 negara.

Izin Starlink di India Masih Mandek

Starlink sebenarnya mengincar India sejak 2021. Perusahaan ini bahkan mengembalikan uang pra-pesan pelanggan pada awal 2022 setelah pemerintah India turun tangan.

Kemajuan baru datang pada 2025. Starlink memperoleh otorisasi layanan dari Departemen Telekomunikasi pada Juni 2025, lalu izin regulator antariksa IN-SPACe pada 8 Juli 2025 untuk 4.408 satelit generasi pertama.

Meski begitu, per 8 Oktober 2026 Starlink belum bisa menjual layanan komersial di sana. Menurut Business Standard, izin keamanan, persetujuan investasi asing, dan aturan final biaya spektrum masih menunggu keputusan.

Baca Juga:  Cara Merawat Baterai HP dan Laptop Awet

Kabinet juga belum mengesahkan usulan biaya spektrum sebesar 5% dari pendapatan. Karena itu, belum ada harga resmi Starlink dalam rupee.

Cara Kerja Internet Satelit Orbit Rendah

Antena datar Starlink terpasang di rak atap mobil di jalan tanah daerah padang terbuka
Antena panel datar Starlink di atap kendaraan menangkap sinyal satelit langsung dari langit, jauh dari jaringan kabel. Foto: Tony Webster/Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

Kunci Starlink ada di ketinggian orbit. Menurut situs resminya, satelit Starlink beredar sekitar 550 km di atas Bumi, sedangkan satelit geostasioner berada di 35.786 km.

Akibatnya, data menempuh jarak jauh lebih pendek. Starlink mengklaim latensinya sekitar 25 milidetik, jauh di bawah satelit geostasioner yang bisa lebih dari 600 milidetik.

Selain itu, setiap satelit membawa tiga laser antarsatelit berkapasitas hingga 200 Gbps. Berkat laser ini, data bisa berpindah antarsatelit sebelum turun ke stasiun bumi.

Di rumah, pengguna cukup memasang antena panel datar yang menghadap langit terbuka. Antena itu tersambung ke router, lalu ponsel dan laptop memakai Wi-Fi seperti biasa.

Jumlah satelitnya juga terus bertambah. Hitungan astronom Jonathan McDowell mencatat 11.123 satelit Starlink berfungsi per 9 Oktober 2026.

Harga dan Kecepatan Starlink di Indonesia

Elon Musk meresmikan layanan ritel Starlink di Puskesmas Pembantu Sumerta Kelod, Denpasar, Bali, pada 19 Mei 2024. Sebelumnya, Starlink sudah masuk sejak Juni 2022 lewat kerja sama dengan Telkomsat untuk layanan korporasi.

Saat kami cek di situs resmi Starlink Indonesia pada 9 Oktober 2026, paket Residensial Lite bertarif Rp510.000 per bulan dengan kecepatan hingga 200 Mbps. Sementara itu, paket Residensial seharga Rp800.000 per bulan menjanjikan lebih dari 350 Mbps.

Harga perangkatnya mulai Rp4.750.000 di area tertentu. Selain itu, Starlink tidak menjamin angka kecepatan tadi, sehingga koneksi bisa melambat saat jaringan padat.

Jangan lupa menghitung biaya listrik untuk antena dan router yang menyala sepanjang hari. Patokannya bisa kamu lihat di daftar tarif listrik PLN Oktober 2026.

Baca Juga:  Perbandingan Review iPhone 18 dengan 17, Apa yang Paling Terbaru?

Kapasitasnya pun terbatas. Pada 13 Juli 2025, Starlink sempat menutup pendaftaran pelanggan baru di seluruh Indonesia karena kuota habis, lalu membukanya lagi setelah sekitar sepekan.

Peluang Internet Satelit untuk Daerah 3T

Rumah adat kerucut beratap ijuk di Desa Wae Rebo dikelilingi pegunungan hijau di Flores, Nusa Tenggara Timur
Desa Wae Rebo di pegunungan Flores, NTT, contoh permukiman terpencil yang sulit dijangkau jaringan kabel. Foto: Jakub Hałun/Wikimedia Commons (CC BY 4.0)

Menurut siaran pers Kominfo pada 18 April 2024, teknologi satelit orbit rendah cocok untuk wilayah 3T yang jauh dari jaringan kabel serat optik. Kementerian Kesehatan juga menggandeng Starlink untuk puskesmas di daerah terpencil.

Bagi warga kota, Rp510.000 per bulan memang terasa mahal dibanding internet kabel. Starlink paling masuk akal untuk lokasi tanpa jaringan fiber, kapal, atau usaha di pelosok.

Kasus India juga memberi pelajaran penting. Teknologinya bisa siap lebih dulu, tetapi izin, keamanan data, dan kepentingan operator lokal tetap menentukan cepat lambatnya layanan masuk.

Kastakilaters yang tinggal di daerah tanpa fiber sebaiknya mengecek ketersediaan di alamat sendiri sebelum membeli perangkat. Sementara itu, nasib Starlink di India masih menunggu keputusan pemerintah setempat.

Diana Runiana
Ditulis oleh

Diana Runiana

Perempuan asli Gamping, Sleman. Suka menulis, membaca, dan menggambar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan